Minggu Kesebelas

Posted on November 08, 2008 in Adobe Pagemaker

memasang finished komputer. memformat komputer jenis DELL. menginstall driver. menginstall perisian-perisian yang diperlukan seperti Microsoft Aid, Adobe Essay 7.0 serta antivirus Avast dan AVG ransom. menyambung rangkaian information superhighway pada komputer. membuat penyambungan kabel utp dengan RJ45. menetapkan alamat yang diperlukan bagi membuat penyambungn rangkaian Info Strada. mengenalpasti masalah komputer tidak dapat disambungkan pada rangkaian Internet. teliti pada sambungan kabel. ketatkan kabel dengan menggunakan 'crimping innards'. sambung semula kabel itu. Info Strada masih tidak dapat dihubungkan. perhati pula pada port. didapati LED pada port tidak menyala. ini menunjukkan sambungan port pada komputer telah rosak dan tidak dapat digunakan. penyelesaiannya, tambah kad antaramuka rangkaian. mempelajari tentang perisian PowerDirector Propel. cheap microsoft office cheap corel draw

Tags: pada, komputer, kabel, rangkaian, tidak

Minggu Keduabelas

Posted on November 08, 2008 in Adobe Illustrator

membuat penyambungan kabel utp dengan RJ45 jenis 'cross-over'. menguji dengan menggunakan alat penguji rangkaian. alat itu didapati tidak bernyala. ini bermakna terdapat kesilapan pada kabel itu. teliti dan kemaskini semula sehingga dapat digunakan. mempelajari cara membina laman internet melalui Microsoft Frontpage. mengemaskinikan bios serta memformat komputer. menginstall perisian-perisian yang diperlukan seperti Microsoft Office, Adobe Magazine 7.0, Winzip dan juga antivirus seperti Avast dan AVG defend. memformat komputer jenis acer. caranya agak mudah. kita hanya perlu memasukkan CD yang disertakan mengikut urutannya. ikut arahan yang akan dipaparkan. cheap corel draw cheap microsoft office

Tags:

Panduan Praktis Idul Fitri

Posted on October 19, 2008 in Discreet 3D Studio

Cahaya Terang Kekalahan Penulis: Gede Prama Teater bola, mungkin itulah sebutan layak diberikan setiap kali ada turnamen sepak bola yang berskala agak besar seperti Euro 2004. Lebih dahsyat dari teater yang sebenarnya, yang hanya menguras perhatian sebatas di ruang teater, teater bola ini mengguncang ke mana-mana. Jangankan dunia kerja, hubungan suami-istri pun sementara dilupakan. Jangankan komunikasi perusahaan, kampanye pemilihan presiden pun menjadi kalah populer. Bila benar pendapat bahwa perhatian adalah mitra aktif tindakan, sepak bola membawa implikasi tindakan yang tidak kecil. Terutama karena terkurasnya demikian banyak perhatian publik akan hal ini. Sehingga meramal tindakan-tindakan manusia kini dan nanti, layak bercermin sebagian dari perhatian kita manusia terhadap sepak bola. Menang-kalah memang menjadi semacam energi yang membuat sepak bola jadi menarik. Perhatikan secara cermat pertandingan sepak bola, tidak saja dua puluh dua manusia yang mondar-mandir memeras keringat dan pikiran di lapangan yang membuatnya gegap-gempita. Ratusan juta penonton di pinggir lapangan sekaligus di depan layar kaca juga berdebar dengan status menang-kalah. Tanpa judul menang-kalah, sepak bola mana pun bisa kehilangan daya magisnya. Kehidupan juga serupa. Pertandingan menang-kalah juga menjadi warna dominan kehidupan. Bahkan ada yang berani membunuh orang agar naik ke dalam status menang. Semua orang bilang kalau menang itu nikmat, kalah itu menyakitkan. Namun sedikit yang menemukan cahaya terang di balik kekalahan yang menyakitkan. Ada banyak sekali kekurangan-kekurangan di dalam yang berhasil disembuhkan justru karena diterangi oleh kekalahan yang menyakitkan. Tidak sedikit manusia yang dibawa ke tempat hidup yang mengagumkan bernama rendah hati, justru karena pernah kalah berulang-ulang. Kesempurnaan juga serupa. Tidak ada satu pun kesempurnaan yang tidak melalui tahapan salah, kalah, salah, kalah, dan sekali lagi kalah. Sehingga diterangi cahaya pemahaman seperti ini, ingin atau bercita-cita menang tentu saja wajar dan manusiawi. Namun kecewa berlebihan sekaligus mencampakkan kekalahan, tentu layak direnungkan. Secara lebih khusus, karena kekalahan dan kegagalan sedang membawa manusia menuju tangga-tangga kesempurnaan yang lebih tinggi. Setelah menang-kalah, cahaya kedua yang bersinar dari sepak bola adalah kawan-lawan. Tidak saja tim kesebelasan di lapangan yang punya kawan dan lawan, ratusan juta penonton juga serupa. Tidak saja berhenti dalam pertandingan, dalam percakapan keseharian pun pemisahan kawan-lawan terjadi. Bersahabat dengan kawan tentu saja mudah sekaligus indah. Tertawa, canda, ceria, gembira itulah sebagian berkah dari kegiatan berkawan. Dan lawan, di permukaan memang hanya memproduksi halangan sekaligus kesulitan. Masih di permukaan, marah, gerah, musibah itulah akibat dari hadirnya lawan. Tidak banyak yang menyelami, kalau energi justru bertambah dengan kehadiran lawan. Hati-hati, itu hal kedua yang muncul di dalam melalui kehadiran lawan. Dan yang paling penting, lawan adalah rangkaian orang yang menentukan seberapa tinggi kita manusia bisa terbang. Ibarat latihan tinju, kalau sparring partner-nya anak kecil balita, maka petinjunya pun hanya bisa sampai kelas balita. Dan lawan-lawan kehidupan juga serupa. Setiap kali kita manusia dihadapkan pada lawan-lawan yang tidak terbayangkan besarnya, itu juga sebuah tanda-tanda, kalau kehidupan sedang membimbing ke wilayah yang tidak terbayangkan besarnya. Makanya, bisa dimaklumi kalau pejalan-pejalan kaki kehidupan yang sampai di puncak-puncak yang amat tinggi, tidak sedikit yang berterimakasih dan bahkan merasa berhutang budi pada orang-orang yang awalnya disebut lawan. Piala, itulah cahaya ketiga yang datang dari sepak bola. Ia seperti garis finish bagi pelari, seperti puncak gunung bagi para pendaki. Dan tentu saja amat layak disyukuri kalau tim sepak bola berhasil mendapat piala. Atau tim pendaki berhasil sampai di puncak gunung. Namun, tidak terlalu banyak manusia yang memperhatikan dan mencermati setiap langkah dalam meraih piala, atau setiap pemandangan dalam perjalanan menuju puncak gunung. Bagi setiap tim sepak bola, jauh-jauh hari sebelum piala diraih ada serangkaian hal yang mesti dijalani. Latihan di lapangan, berlari-lari mendaki gunung, percakapan dengan pelatih, menonton permainan sendiri sekaligus lawan, diteriaki penonton, atau malah ada yang pernah cidera kaki, hanyalah sebagian perjalanan sebagai syarat meraih piala. Sama dengan pendaki gunung, pemandangan dan canda di lereng gunung juga tidak kalah menariknya. Kehidupan juga serupa. Sebagian orang (sebagai contoh Stephen Covey) menggunakan piala sebagai dorongan untuk bergerak. Makanya ada prinsip mulai dengan gambar akhir sebagai salah satu prinsipnya Covey. Namun ada juga yang tidak memerlukan gambar akhir. Sehingga yang tersisa hanyalah proses yang mengalir. Dalam bahasa seorang sahabat guru: "When you totally flow, the agony disappear, pain becomes pleasure." Tatkala manusia mengalir penuh, seluruh luka-luka mendalam menghilang, kesedihan menjadi kesenangan. Kembali ke soal sepak bola, kita tentu saja memerlukan keduanya: piala sekaligus proses yang mengalir. Tatkala manusia mendapat piala dengan cara mengalir bukankah manusia memperoleh keduanya: piala di akhir sekaligus kegembiraan dalam perjalanan? ***** ---------------------Catatan Dynamics Consulting:---------------------- Ketik SUKSES Sub Kirim ke: 6789 (Telkomsel) 3433 (IM3, ProXL, Satelindo) ------------------------------------terima kasih-----------------------------------

Tags:

Kasih Tuhan Mengembalikan Posisi Tulang Belakangku

Posted on October 19, 2008 in Discreet 3D Studio

Kedamaian Menciptakan Keindahan Penulis: Gede Prama Pencari kedamaian, mungkin itu judul layak diberikan pada kegiatan sebagian manusia di zaman ini. Terutama setelah mengalami banyak sekali kelelahan. Menjamurnya buku-buku sekaligus latihan meditasi, membengkak pesatnya jumlah manusia yang datang ke tempat ibadah, lahirnya banyak sekali pemikiran new age, munculnya banyak sekali tokoh-tokoh perdamaian di muka bumi, semuanya bermuara pada salah satu ujung perjalanan manusia: kedamaian. Panitia pemberi hadiah Nobel di Oslo bahkan setiap tahun mencari muka-muka baru yang bisa diberi penghargaan karena jasa seseorang dalam meningkatkan perdamaian. Dengan kata lain, kedamaian rupanya telah menjadi barang yang langka sekaligus amat berguna di zaman ini. Pertanyaannya kemudian, "Benarkan kedamaian harus dicari? Kalau dicari, di manakah ia bersembunyi? Mungkinkah ia bukan bersembunyi malah disembunyikan?" Ah, maafkanlah pertanyaan, karena pertanyaan tidak saja membimbing pencaharian, pertanyaan juga kerap terlalu bernafsu untuk segera sampai pada jawaban. Dan nafsu berlebihan akan jawaban-jawaban segera inilah yang kerap menjauhkan manusia dari kedamaian. Manusia dan ilmu-ilmu manusia memang tidak satu dan seragam. Ia demikian kaya sekaligus plural. Demikian juga dengan ladang-ladang kedamaian. Demikian banyak ladangnya, demikian berlimpah cara yang tersedia. Menyebutkan kalau sebuah cara sebagai cara terbaik, sebuah ladang adalah satu-satunya ladang kedamaian, mudah sekali tergelincir kedalam kedangkalan sekaligus kesombongan. Untuk itulah layak diendapkan, kalau setiap ulasan tentang kedamaian, hanyalah salah satu saja dari demikian berlimpahnya pilihan ulasan yang tersedia. Disinari cahaya-cahaya kerendahan hati seperti inilah, ada yang bertanya ulang, "Betulkah kedamaian harus dicari?" Marilah kita mulai dengan keadaan hidup yang diberi judul kedamaian. Sejuk, tenteram, bersahabat, semua tampak baik dan bahkan sempurna, adalah rangkaian keadaan yang muncul di dalam ketika manusia membuka pintu-pintu kedamaian. Keadaan seperti ini, adakah ia sebuah akibat atau juga sebuah sebab? Tidak mudah menjawabnya secara hitam-putih. Secara lebih khusus karena manusia berbeda-beda. Ada memang kelompok manusia yang menyebut kedamaian sebagai akibat. Sebabnya pun demikian beragam. Dari hal-hal luar seperti rumah, mobil, jabatan, nama baik sampai dengan hal-hal di dalam seperti pengendalian diri, kecintaan akan alam dan kehidupan serta ketekunan berjalanan menuju Tuhan. Ada juga kelompok lain yang menyebut kedamaian sebagai sebab. Yang penting, menurut kelompok ini, berucap dan bersikaplah sama dalam setiap keadaan: "I can choose peace than the others." Pilih kedamaian, jangan yang lain. Demikianlah selalu wajah-wajah dinamis ilmu-ilmu manusia. Positifnya selalu memberi pilihan yang kaya. Halangannya atau malah peluangnya, mempersilahkan orang untuk menentukan sendiri pendekatan mana yang tepat. Dalam peta perjalanan seperti ini, pencari-pencari kedamaian dipersilahkan memilih sesuai dengan kedalaman pemahamannya akan diri. Mereka yang kedalaman pemahamannya akan diri masih di tingkat kedamaian sebagai akibat, dipersilahlkan berkonsentrasi pada sebab-sebab yang relevan. Hal-hal luar seperti uang, rumah dan mobil memang bisa membantu sebentar. Demikian juga dengan hal-hal dalam seperti disiplin diri, yang bisa memberi dampak lebih jangka panjang. Cuman, apa pun yang berbau akibat, ia akan senantiasa datang dan pergi. Lain halnya dengan kedamaian sebagai sebab. Karena pilihan sikapnya dalam setiap keadaan tidak mengenal yang lain kecuali kedamaian, maka kedamaian menjadi teman yang relatif lebih abadi. Mantra orang-orang dalam kelompok ini hanya satu: "I can choose peace than others." Semenderita apa pun, semenggoda apa pun pilihan-pilihan lainnya, tetap yang dipilih hanya satu: kedamaian. Seorang sahabat bergumam, "Tidak mudah!" Ini juga tergantung pada diri kita masing-masing. Terutama seberapa kuat badan dan pikiran mencengkeram perjalanan setiap manusia. Dalam kehidupan yang dicengkeram kuat-kuat oleh badan dan pikiran, memilih kedamaian itu sebuah perjuangan berat - kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin. Dalam kehidupan di mana badan dan pikiran hanya kuda atau kendaraan yang terkendali, cerita jadi lain. Untuk itulah, bisa dimaklumi kalau bahasa Tibet dari pencerahan adalah jangchub, yang berarti menginternalisasikan nilai-nilai positif secara total. Dalam nilai-nilai positif yang telah diinternalisasikan secara total ke dalam, tidak saja badan dan pikiran kemudian jadi kendaraan, pilihan I can choose peace than others menjadi demikian mudah dan mengalir. Dan kedamaian pun menjadi sebuah sebab. "Apa yang tersisa dalam kehidupan seperti ini?", demikian seorang sahabat pernah bertanya. Dan banyak guru hanya menjawabnya dengan senyuman dalam-dalam. Seperti sedang mengungkapkan keindahan yang tidak bersebab. Pengungkapan keindahan mana pun melalui kata-kata selalu disertai lawan di belakangnya. Namun senyuman dalam-dalam tanpa kata-kata, ia sedang bertutur tentang keindahan yang tidak memiliki lawan. Seperti pernah dituturkan Dalai Lama dalam The Many Ways to Nirvana: "The highest form of peace is true cessation." Kedamaian tertinggi adalah keadaan berhentinya semua. Termasuk berhentinya kata-kata sebagai wakil keindahan. Bukankah dalam hening dan sepi semuanya serba tanpa lawan, semuanya tidak mengundang perdebatan sekaligus pertanyaan?

Tags: yang, kedamaian, dalam, dan, tidak

Sponsors

Search